DAIRI – Tak mudah memang menjadi seorang relawan covid-19, memiliki banyak tantangan dan risiko.
Sosok pemberani yang ikhlas sangat diperlukan untuk menghadapi bencana kasat mata yang pertama kali terjadi di dunia ini.
Aipda Johannes Simbolon, ditengah tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan anggota Polri, Ayah dari tiga anak ini juga menyempatkan waktu bergabung sebagai relawan dengan Tim pemakaman pasien Covid-19 di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Aktifitas ini dikatakan Johanes bukan menjadi pilihan, tapi bentuk dedikasi, pengabdian untuk masyarakat dan Negara.
“Saya lihat tidak semua warga yang menerima, ada juga yang komplain atau menolak jenazah dimakamkan tim. Sebagai anggota Polri, hati saya tergerak jadi penyemangat buat tim pemakaman, itu motivasi saya, dan saya tulus ikhlas kerjakan ini,” kata Johanes Jumat (9/7/2021)

Aktivitas relawan pemakaman pasien Covid sudah di jalani sejak 2 bulan lalu dan sudah melakukan 15 kali pemakaman.
Kepada tigasisi.id, Bintara Polres Dairi itu mengaku, sebagai relawan bukan takut terpapar Covid-19, tapi lebih kepada taat prokes dan mengkonsumsi makanan bergizi sebagai penambah imun tubuh.
“Kalau takut kita mudah terpapar, jadi harus bekerja taat prokes, menjaga imun dan yang pasti di awali dengan Doa bg,” ujar Johanes.
Banyak tantangan dan rintangan yang di ceritakan kepada tigasisi.id.
Seperti, dilarang keluarga ikut relawan karena kekhawatiran terpapar dan membawa virus ke rumah.
“Awalnya keluarga ragu, tapi setelah saya beri pemahaman mereka mengerti dan sekarang sudah mensuport,” cetus pemuda 39 tahun itu.
Minggu pertama sebagai relawan, Johanes sempat tidur di gudang acap kali pulang memakamkan pasien Covid.
“Setiap pulang pemakaman, ke gudang di KM II, trus mandilah, mencuci pakaian, sepatu yang saya pakai pemakaman. Baru nyemprot kendaraan, besoknya sore baru pulang kerumah, kita juga konsumsi vitamin dan rutin berolahraga,” ujar Johanes.
Tantangan lain dikatakan pernah dimaki-maki keluarga korban yang tidak terima karena keluarganya dikatakan terpapar covid-19, dijauhi rekan kerja dan teman.
“Awalnya, pemakaman pertama gak ada yang mau dekat di kantor, dan saya sudah siap dengan konsekwensi itu, tapi diliat sehat lama kelamaan barulah dekat, dan puji Tuhan udah 15 pemakaman belum pernah sakit,” cetusNya melempar senyum.
Duka lainnya diceritakan, saat pemakaman harus dilakukan malam hari dan lokasi jauh dengan medan berat.
“Hujan pulak lagi. Pernah tertimpa peti karena medannya yang susah. Ada juga anggota tim ketakutan kalo berangkat malam.” ujarnya.
Johanes mengaku giatnya sebagai relawan pemakaman pasien Covid diketahui pimpinan.
Kepada masyarakat, dia berpesan agar mematuhi protokol kesehatan dan tetap waspada.
“Jangan spele akan situasi sekarang ini. Mari Saudaraku kita melakukan pencegahan penyebaran covid-19 ini dengan mematuhi anjuran Pemerintah,” pungkasnya. (ts-3)






