3 Universitas Ternama Tindaklanjuti Kerjasama dengan Pemkab Dairi

DAIRI : 3 (Tiga) Universitas ternama di Indonesia yakni, Universitas Katolik (UNIKA) Atma Jaya Jakarta, Universitas Katolik (UNIKA) Santo Thomas Medan dan Universitas HKBP Nomensen Medan hadir menindaklanjuti pertemuan dan perjanjian kerjasama antara 3 universitas tersebut dengan Pemkab Dairi yang sudah ditandangani pada 17 November 2020 lalu.

Hari ini, Selasa, (26/05/2021) diwakili Engelbertha EP Silalahi dan Amran Manurung menemui pihak Pemkab Dairi yang diwakili Asisten bidang ekonomi dan pembangunan, Charles Bancin dan kepala badan pengelola pendapatan daerah Harryson Sirumapea bertempat di ruang rapat kantor badan pengelola pendapatan daerah kabupaten Dairi, Jalan 45 kota Sidikalang.

Engelbertha EP Silalahi mengatakan, kehadirannya dan Tiga Universitas tersebut adalah untuk mencari tahu bagaimana data di lapangan sehingga Tiga Universitas tersebut dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten Dairi kedepannya.

“Kami ingin membantu pemerintah kabupaten Dairi membenahi pajak untuk mendongkrak pendapatan asli daerah kabupaten Dairi salah satunya melalui pajak, tapi kami mesti tau dulu data dan fakta dilapangan sehingga kami bisa mengetahui darimana memulai membenahi. Target kami adalah peningkatan PAD melalui Tridharma perguruan tinggi dalam bentuk penelitian dan pelatihan,” kata Engelbertha.

Istri anggota DPR-RI Hinca Panjaitan ini menegaskan, jika semua masyarakat sadar pajak, maka makin kayalah negara. Jika negara atau daerah tidak memiliki pendapatan dari pajak,maka pemerintah akan mencetak uang sebagai solusi. Namun kata Engelbertha, mencetak uang terlalu banyak, akibatnya akan terjadi inflasi

“Print too much money (red:mencetak uang sebanyak-banyaknya) akan menimbulkan inflasi. Jadi pemerintah, pada dasarnya selalu berupaya untuk tidak mencetak uang tapi mendapatkan pendapatannya dari pajak, itulah pendapataan asli daerah (PAD). Nah kunci keberhasilan sebuah daerah adalah bilamana masyarakatnya sadar akan pajak, itulah tujuan kehadiran kami disini. Saya meminta langkah awal dari pemkab apa yang harus dilakuan oleh tim dari Tiga kampus ini.” ujarnya.

Engelbertha menyebut tanggal 28 Mei ini akan ada rapat akbar antara 3 universitas tersebut dengan pihak pemkab Dairi secara virtual dengan zoom untuk membahas langkah-langkah konkrit yang akan dilakukan 3 universitas ini dengan segera.

“Kami berharap, Sosialisai, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan komunikasi yang baik dengan masyarakat sebagai wajib pajak akan mampu membantu kabupaten Dairi meningkatkan PAD nya. Saya bersama tim dari universitas Nomensen Medan datang untuk itu, membangun dan berkontribusi untuk tanah leluhur saya,” pungkasnya.

Sementara itu, Harryson Sirumapea memaparkan perolehan pendapatan asli daerah dari Pajak Bumi dan Bangunan ( PBB) dan retribusi mulai dari tahun 2016 hingga 2020.

HarrySon menerangkan badan pengeloa pendapatan daerah berupaya mengoptimalisasi pajak daerah, namun tentunya kondisi dilapangan tidak semudah yang dibayangkan.

“Kami melakukan penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) menggunakan zona nilai tanah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang akibatnya akan ada kenaikan namun dengan pemberian stimulus agar tidak melukai masyarakat. BPHTB dengan aplikasi online sudah bekerjasama dengan beberapa notaris. Pajak restoran di Dairi masih rendah, pemahaman objek pajak sebenarnya masih keliru, namun kami tidak mau tertinggal, sebagaimana oleh KPK disarankan untuk membuat tapping box sebagai perekam transaksi atau alat kendali” ujar Harryson.

Terkait pajak reklame, menurut Harryson Sirumapea juga harus berkolaborasi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terutama OPD yang bersinggungan secara teknis agar mendapatkan hasil yang lebih optimal.

“Permasalahan penerimaan pajak reklame memang masih rendah, dikarenakan data yang belum akurat, nilai pajak rendah, dan wajib pajak terlambat bayar sehingga dibutuhkan kolaborasi bersama OPD teknis. Hal lain adalah penyusunan nilai jual objek pajak, pemutakhiran data PBB P2 (perkotaan dan perdesaan) dan melakukan pengembangan informasi PBB P2 secara digital serta melakukan pendekatan pada wajib pajak agar melakukan pembayaran PBB P2 secara tepat”,tutup Harryson.

Usai pertemuan, tim dari Tiga universitas bersama jajaran dari kantor pengelolaan pendapatan daerah melakukan acara makan siang di Rumah Makan Pinadar Malau di Sitinjo dan selanjutnya mengunjungi Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo, Sidikalang. (dams)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *