Franc Bernhard Tumanggor Prihatin, Angka Stunting Tinggi

PAKPAK BHARAT – Angka stunting di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara dinilai masih memperihatinkan.

Hal ini perlu menjadi perhatian berbagai pihak, baik dari pemerintah pusat, Provinsi sampai pemerintahan paling rendah.

Senin 24 Mei 2021 lalu, Bupati Pakpak Bharat Franc Bernhard Tumanggor mengunjungi penderita Stunting.

Dia mengaku prihatin, dan mengatakan penyebab tingginya kasus stunting dikarenakan masih tingginya kemiskinan masyarakat khususnya di desa-desa.

Dampaknya bayi terlahir dengan gizi kurang yang diukur melalui ukuran panjang tubuh tidak sampai 48 sentimeter dan berat badannya tidak sampai 2,5 kilogram juga ditambah dari bayi yang terlahir normal akan tetapi tumbuh dengan kekurangan asupan gizi hingga dibesarkan juga kurang zat gizi sehingga menjadi stunting.

“Kasus stunting ini merupakan masalah multidimensional yang perlu diselesaikan secara multisektoral,” ujar Franc.

Ditengah pandemi Covid-19 dan keterbatasan APBD, Pemerintahan Kabupaten Pakpak Bharat masih terus berupaya menurunkan angka stunting karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045.

Selain kemiskinan, tingkat pendidikan juga berkaitan dengan permasalahan gizi.

Minimnya pengetahuan membuat pemberian asupan gizi tidak sesuai kebutuhan.

Contohnya, kurangnya kesadaran akan pentingnya inisiasi menyusui dini (IMD).

Padahal IMD menjadi langkah penting dalam memberikan gizi terbaik.

Seperti di Desa Binanga Boang yang dekat dengan ibukota kabupaten saja masih terdapat puluhan bayi stunting dan juga mangalami gizi buruk.

Hal ini tentunya menjadi perhatian khusus, bukan saja bagi Pemerintah Pakpak Bharat namun perlu perhatian dari pemerintah pusat serta Provinsi sehingga penurunan kasus stunting ini bisa segera teratasi.

Data dari dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat, jumlah bayi pada usia dua sampai tiga tahun mengalami stunting dan masuk kategori gizi buruk sebesar 26,79 %, tersebar di Kecamatan Salak sebanyak 209 orang dari total 829 bayi, Kecamatan Sukaramai 241 orang dari total 813 bayi, Kec PGGS 120 orang dari total 409 bayi, Kecamatan Pagindar 31 orang dari total 117, Kecamatan STTU Julu 95 orang dari total 323 bayi, Kecamatan Tinada 136 orang dari total 399 bayi, Kecamatan Siempat Rube 85 orang dari total 534 bayi serta Kecamata STTU Jehe 271 orang dari total 1011 bayi.

“Ini tentunya sangat mengkhawatirkan, berbahaya dan sangat butuh penanganan khusus dengan segera. Ini ancaman serius terhadap upaya dan cita-cita kami untuk mambangun generasi emas Pakpak Bharat, bahwa keinginan dan upaya mewujudkan Pakpak Bharat sejahtera salah satu tentunya dengan membangun dan membentuk generasi emas adalah suatu keharusan dan mau tidak mau kita harus segera upayakan untuk menurunkan angka stunting ini,” ujar Bupati Pakpak Bharat.

Saat ini, dalam upaya memberantas stunting dan gizi buruk ini, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat menggalakkan pembagian makanan tambahan bagi bayi baru lahir dan juga ibu hamil, peningkatan cakupan imunisasi dasar bagi bayi dan balita, pembagian vitamin dan lainnya.

“Masalah stunting merupakan masalah multidimensional, masalah ini harus diselesaikan dengan melibatkan banyak sektor supaya bisa cepat diselesaikan”, kata Franc.

Pemerintah Kabupaten pakpak Bharat menghimbau kepada masyarakat melalui Puskesmas, Puskesdes, Pemerintah Desa, dalam hal memperbaiki asupan gizi keluarga, agar para suami memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam sayuran, memelihara unggas, ikan dan sebagainya yang tentunya memberi nilai tambah secara ekonomi juga baik untuk dikonsumsi dalam keluarga.

Sementara, Kepala UPT Puskesmas Salak Sudi Anto Bacin, SKM menjelaskan angka penderita stunting memang masih sangat tinggi di Kabupaten Pakpak Bharat.

“Angka penderita Stunting di daerah kita memang masih tergolong tinggi, di Kecamatan Salak ini sendiri telah kami temukan total 209 dari 829, ini benar-benar sangat mengejutkan, berbahaya, dimana sebagian besar diantaranya masuk dalam kategori stunting berat dan perlu penanganan khusus, kalau dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan terganggunya perkembangan otak pada anak dan tentunya akan sangat mempengaruhi prestasi akademiknya kelak” ujar Kapus Salak.

Stunting dikatakan dapat dicegah pada masa Golden Periode yakni pada masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun, penyebab utama, kurangnya asupan gizi, juga faktor lingkungan dan kebersihan, kurangnya pengetahuan orang tua dan sebagainya.(ts-2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *