DAIRI – Masyarakat Desa Bongkaras mengadakan ”Refleksi dan Doa bersama Peringatan 2 tahun banjir bandang” di dusun 2 desa Bongkaras Kecamatan Silima Pungga pungga Kabupaten Dairi, Senin (07/12/2020).
Bencana Banjir Bandang yang terjadi pada tanggal 18 Desember tahun 2018 adalah duka yang sangat mendalam dan mengingatkan kami bahwa alam di sekeliling desa Bongkaras juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tubuh masyarakat Desa Bongkaras.
Acara ini kerjasama Masyarakat Bongkaras dengan lembaga Yayasan Diakonia Pelangi Kasih (YDPK), yang dihadiri oleh Pemerintah Kabupaten di wakili Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, Ustad Parongil dan Yayasan PETRASA.
Kurang lebih 100 orang dewasa beserta anak-anak Desa Bongkaras yang turut serta dalam kegiatan refleksi dan doa bersama. Acara ini juga tidak terlepas dari partisipasi anak desa bongkaras yang sudah merantau, mereka menunjukkan keikutsertaannya, sebagai wujud keperduliannya mereka turut menyumbang dana untuk keberlangsungan acara ini.
Menurut Ketua Panitia, Darwin Situmorang, Tujuan dari kegiatan ini semata-mata bukan hanya sekedar seremonial tetapi lebih pada mengingatkan masyarakat bahwa pentingnya menjaga alam, merawat lingkungan supaya bisa diwariskan ke generasi mendatang dan tidak menimbulkan bencana.
“Banjir Bandang 2 tahun silam bukan terjadi secara otomatis tetapi kita sadari bahwa ada perbuatan manusia yang serakah dan rakus terhadap sumber kekayaan alam. Kayu besar dibawa derasnya air hingga sungai, perladangan, kolam ikan dan sawah rusak, batuan-batuan besar menerjang permukaan tanah dan meluluhlantahkan desa kami”.
“6 korban meninggal dunia, dan satu diantaranya tidak ditemukan sampai sekarang. Harapan kami hal ini tidak kembali terjadi lagi ke depan, ini menjadi tragedi yang cukup luar biasa yang dialami masyarakat Bongkaras” , jelas Darwin.
Sementara itu, Salah satu saksi kejadian saat itu, EmelioTumanggor, anak berumur 8 tahun, bersaksi dan menceritakan dukanya kehilangan kedua orang tuanya, dengan isak tangis dia menceritakan isak pilunya dan kini dia menjadi yatim piatu karena menjadi korban banjir bandang.
Diceritakan, Jasad salah satu orang tuanya (bapak) tidak ditemukan sampai sekarang.
Hal yang sama terjadi pada ibu Nurhalimah Berutu yang kehilangan suaminya karena terbawa arus banjir dan jasad tidak ditemukan. Tidak hanya kehilangan anggota keluarga, banjir bandang juga meninggalkan trauma kepada masyarakat, misalnya ketika hujan deras, warga biasa ketakutan dan jika sedang berada di ladang memilih segera pulang.
Kepala Rehab dan rekonstruksi dinas BPBD Kabupaten Dairi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kejadian banjir bandang yang terjadi 2 tahun lalu bukan terjadi dengan sendirinya melainkan ada campur tangan manusia yang turut berpartisipasi merusak alam ini.
Demikian juga dengan Arion Sihaloho, kepala desa Bongkaras dalam sambutannya mengatakan selaku pemerintah desa Bongkaras pihaknya tidak mendukung kegiatan eksploitasi alam yang datang dan juga tidak menolak tetapi kami berada di posisi netral.
Sementara, Diakones Santun Sinaga sebagai pembawa acara dari Yayasan Diakona Pelangi Kasih (YDPK) menegaskan yang diharapkan dari pemerintah daerah dan desa sebenarnya adalah sikap yang tegas yang berpihak sepenunhnya kepada keselamatan masyarakat dari segala kegiatan ekploitasi alam.
Yang menjadi Pemimpin Ibadah di acara ini adalah Pdt Andy Lumbangaol (Pdt HKBP Distrik Dairi ) dan Yang membawakan renungan untuk Refleksi dan renungan dibawakan oleh Pdt Palti Panjaitan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat (PENGMAS) HKBP dan Acaraini Juga di hadiri oleh Pdt Robin Siregar dari Kantor pusat GKPI, dalam Renungannya Pdt Palti Panjaitan mengajak masyarakat untuk merenungkan ayat firman yang tertulis di Yeremia 29 ayat 7, demikian “ Yeremia 29 : 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
Ayat ini mengajarkan kita untuk lebih peduli, lebih menjaga keutuhan ciptaan yang akan membawa kesejahteraan bagi hidup banyak orang yang tidak terlepas dari doa masing-masing masyarakat. Merawat bumi serupa dengan merawat ibu kita, tidak ada seorang anak yang ingin berbuat jahat ke ibunya, ibu selalumelahirkan anak dan mencukupi kebutuhan anaknya, ini sama dengan bumi yang selalu memgeluarkan hasilnya untuk memberi kita kehidupan. Dengan demikian tano Bongkaras, sesuai lirik lagu yang dinyanyikan oleh orangtua dan pemuda “Au on naeng mian di ho sambulokki.
Doa syafaat untuk desa Bongkaras di pimpin Oleh Penatua GKPPD Bongkaras, yaitu Barisman Saragih, beliau berdoa untuk keselamatan desa Bongkaras, memintaTuhan untuk melindungi seluruh warga Bongkaras.
Akhir dari acara ini, semua peserta berkomitmen untuk secara bersama-sama untuk menjagajaga hutan,lingkungan supaya tidak terjadi lagi bencana di desa Bongkaras naulii ni. Komitmen bersama atas kecintaan mereka atas desamereka ini di tuangkan dalam lagu yang mereka ciptakan.
“Tano Bongkaras Haholonganku, Sai namalungun do au tu ho, Molo dung bincar mata ni ari Lao panapuhon hauma i, Godang do ngolu siganup ari”.(srh)






