Emrush Sihombing : Pernyataan Sombong Itu Terlalu Tendensius

DAIRI – Pernyataan Wakil Ketua DPRD Dairi, Wanseptember Situmorang SH, pada sidang paripurna DPRD yang beragendakan pemandangan umum terhadap  nota pengantar Bupati Dairi atas Ranperda tentang R-APBD tahun 2021, Rabu 18 Nopember 2020 di gedung dewan, jalan Sisingamangaraja Sidikalang yang dimuat di salah satu media Online, Rabu (18/11/2020) mendapat tanggapan dari Emrush Sihombing, seorang pakar komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan Jakarta.

Dalam berita disebut, Bupati Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Eddy Keleng Ate Berutu, dinilai sombong terhadap masyarakat, termasuk kepada pengurus partai politik, yang mendukungnya maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) lalu.

“Pernyataan sombong itu sangat Tendensius dan terlalu perspektif. Apa kriteria sehingga seseorang disebut sombong?. Saya kira ucapan itu tidak berdasar.Apa ciriborang sombong, apakah seseorang yang mengatakan sombong itu sudah melakukan research atau survey mendalam sehingga menyimpulkan sosok yang dimaksud itu sombong?” ,kata Emrush Sihombing saat dihubungi lewat telepon, Jumat malam (20/11/2020).

“Oleh karena itu tidak semudah itu kita memberi label kepada orang lain. Saya siap berdebat dengan orang yang mengatakan sombong itu. Saya kira, Orang yang mengatakan sombong itu tidak paham teori dan konsep komunikasi politik di Ruang Publik”, tambah Emrush.

Emrush menyarankan agar sebaiknya yang dikritik itu adalah program, gagasan dan pandangan pejabat publik itu saja yang dikritik.

“Tidak boleh seseorang itu kita beri label tertentu. Saya mengharapkan para pejabat publik itu belajarlah ilmu komunikasi, Ontologi, Epistemiologi dan terutama Aksiologi. Melontarkan pesan ke ruang publik harus sesuai dengan Aksiologi yang berlaku ditengah masyarakat itu”, kata dosen UPH ini.

Artinya, tambah Emrush, sebagai akademisi Ia hanya ingin mengatakan agar seseorang apalagi yang notabene adalah pejabat publik untuk berhati-hati melontarkan pendapat di ruang publik.

“Tapi apapun itu, atau kalaupun karena spontan atau keseleo lidah, sebaiknya minta maaflah, karena tidak ada manusia yang sempurna” ujarnya.

Ditanya terkait pernyataan anggota dewan tersebut yang dinilai tidak sesuai dengan pendapat partai, Emrush pun punya penjelasan sendiri.
Ia menjelaskan suatu partai, baik di pusat dan daerah selalu ada faksi (red:kelompok politik kecil) dan biasanya sering terjadi dinamika politik.

” Bisa saja terjadi dinamika politik antar kelompok artinya bisa saja dalam suatu partai ada kelompok yang mendukung kekuasaan tapi ada saja kelompok lain yang menarik dukungan dari segi statemen. Kenapa? Karena bisa saja kepentingannya tidak terpenuhi yang apabila kepentingannya tidak lagi satu-kesatuan lagi maka Ia akan melakukan pandangan-pandangan yang secara mayoritas berbeda”, ujarnya.

Tak berhenti disitu, pernyataan dalam berita yang menyebut Anggota dewan tersebut juga akan meminta kepada ketua DPC dan ketua umum partai Demokrat untuk mencabut dukungannya, Emrush pun memberi tanggapan.

“Posisi kepentingan politik seseorang akan menentukan pesan komunikasi politiknya. Tapi apakah segampang itu mencabut dukungan?.Apakah juga partai di daerah diberi otonomi untuk itu?.Hal cabut mencabut dukungan bukankah harus didiskusikan juga dalam partai? Saya kira tak segampang itu”, Saya berani sebut itu teknik komunikasi hiperbola
kata Emrush mengakhiri.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *